Khamis, 5 Mei 2016

TUNTUTAN 5 PERKARA (T5P) - PAHLAWAN.


TUNTUTAN 5 PERKARA (T5P) BEKAS TENTERA BERPENCEN & TIDAK BERPENCEN...yang dipelopori oleh JK BERTINDAK PAHLAWAN...

... Selama mana Menteri - Kementerian Pertahanan membisu seribu bahasa, maka selama itu lah makin bercambah tumboh melebar jumelah kebencian tertanam kepada Kerajaan (UMNO-BN)...


... Solidaritas atas dasar " Spirit the Armed Forces & Spirit de Corp's " dari kalangan bekas tentera berpencen & tidak berpencen mengatasi kecenderungan politik masing-masing...
JANGAN CUBA MEMPERKECILKAN MEREKA...


... Jauh sebelum ini secara tidak langsung saya telah memperingatkan Kerajaan yang sedang berkuasa... " Jangan Sampai ZahirNya Seorang Koordinator Yang Baik Menghubung & Menyatukan Mereka dengan SATU MATLAMAT...SATU SUARA...SATU IRAMA...SATU VOLUME...SATU TONE "

... Sekarang sudah terbukti... sekali mereka melangkah sederap... TIDAK ADA ISTILAH "berpatah balik - U turn"... melainkan matlamat mereka tercapai - dipenohi (titik)
///
BieJey (BJ)

Jumaat, 15 April 2016

Ketika Fatwa Wahabi/Salafi Bergandeng Mesra dengan Misi Zionis

Wahaby-Zionis
Dalam buku yang berjudul “Mulia Dengan Manhaj Salaf” yang ditulis oleh Ust. Yazid Ibn Abdil Qodir. Dalam buku tersebut pada bab terakhir dengan gamblang Ust. Yazid Jawas mengelompokkan Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai kelompok sesat dan menyesatkan.
Sebuah buku yang kontradiktif dengan buku yang mereka ciptakan sebelumnya yang merupakan Tahrif (penyimpangan) dari al Ibanah yang berjudul “Buku Putih Imam Al Asy’ari” dengan penerjemah Abu Ihasan Al Atsari, penerbit At Tibyan.

Ketika Fatwa Wahabi/Salafi Bergandeng Mesra dengan Misi Zionis

Beberapa tahun yang lalu ketika usiaku masih belasan tahun dan sedang mengenyam pendidikan di sebuah Pesantren, aku mendapati selebaran yang berisi peringatan terhadap kaum Muslimin untuk mewaspadai misi Zionis, diantara yang aku ingat adalah :

1. Pisahkan umat Islam dari ulamanya
2. Pisahkan umat Islam dari Nabinya
3. Pisahkan umat Islam dari kitab sucinya (Al-Quran )
4. Pecah belah dan hancurkan!

Beberapa tahun setelah aku kembali ke kampung, aku dapati fenomena Salafi Wahabi. Dan ketika aku mencermati dogma (ajaran) serta cara mereka “berdakwah” (menyampaikan ajarannya), timbul kecurigaan kuat mereka adalah kaki tangan Zionis. Kecurigaanku bukan tanpa alasan, berikut mari bersama kita cermati secara kritis dengan fikiran dan hati yang jernih tentang beberapa fatwa Salafi Wahabi sekaligus efek yang terjadi dalam konteks keselarasan fatwa-fatwa tersebut dengan misi Zionis:

Misi 1: Pisahkan umat Islam dari ulamanya
Misi ini bertujuan agar umat Islam kehilangan central command/komando yang terpusat dalam segala hal, baik dalam berpolitik, bersosial, beragama, serta menghilangkan metode yang benar dalam memahami agama. Mereka sadar bahwa kegagalan mereka selama ini diakibatkan oleh kuatnya semangat dan persatuan kaum Muslimin dalam melawan mereka. Dan semangat serta persatuan kaum Muslimin tersebut faktanya berpusat pada para ulama. Fakta terbaru, adalah betapa dahsyat akibat/efek dari “Resolusi Jihad” (22-Okt-1945) yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari (NU) juga betapa dahsyat dampak dari seruan para ulama dalam menumpas PKI.

Fatwa Salafi Wahabi yang disinyalir “mendukung” misi tersebut diantaranya adalah :
1. Sesatnya Mazhab Asya’irah/ Asy’ariah dan Maturidiah
Bukti paling dekat atas fatwa tersebut adalah buku yang berjudul “Mulia Dengan Manhaj Salaf” yang ditulis oleh Ust. Yazid Ibn Abdil Qodir. Dalam buku tersebut pada bab terakhir dengan gamblang Ust. Yazid Jawas mengelompokkan Asy’ariyah dan Maturidiyah sebagai kelompok sesat dan menyesatkan. Sebuah buku yang kontradiktif dengan buku yang mereka ciptakan sebelumnya yang merupakan Tahrif (penyimpangan) dari al Ibanah yang berjudul “Buku Putih Imam Al Asy’ari” dengan penerjemah Abu Ihasan Al Atsari, penerbit At Tibyan.

2. Propaganda : Para Ulama adalah Manusia yang Tidak Ma’shum (Tidak terjaga dari salah)
Propaganda “Para ulama adalah manusia yang tidak ma’shum” adalah “Kalimatu Haqqin Uriida Biha Al Bathil” (pernyataan yang benar yang disertai misi batil). Propaganda ini berperan untuk mendorong umat Islam keluar dari mazhab-mazhab yang mu’tabar (diakui) dan beralih kepada “mazhab” yang mereka bangun (mazhab yang tidak bermetode dalam memahami Al-Quran dan Sunnah). Propaganda ini mengesampingkan pesan Allah: “Maka bertanyalah kalian pada Ahlidz Dzikri jika kalian tidak tahu” (An Nahl : 43 dan Al Anbiya’ : 7)
Efek lain dari propaganda ini dapat Anda buktikan dalam sikap Prof. Salim Bajri ketika berdialog dengan Buya Yahya dalam Tema “Sampainya pahala kebaikan yang dihadiahkan untuk orang-orang yang telah meninggal”. Dalam dialog tersebut sang Prof enggan menerima pendapat para ulama dengan alasan mereka tidak ma’shum.

3. Tuduhan “Ta’ashub” (Fanatik) kepada Para Penganut Mazhab 4. Tuduhan “Ghuluw” (Berlebihan) Bahkan Musyrik terhadap Umat Islam yang Menghormati Para Ulama denga Cara Mencium Tangan 5. Haramnya Tawasul dengan Orang-orang Shaleh yang Sudah Meninggal

Efek lain yang ditimbulkan dari fatwa-fatwa dan propaganda tersebut diantaranya adalah:
a. Hilangnya atau setidaknya berkurangnya trust/kepercayaan umat Islam terhadap para ulama khususnya yang bermazhab Asy’ariyah atau Maturidiyah semacam Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam An-Nawawi, Imam Al-Haitami, Imam Al-Qurthubi, bahkan sebagian besar Pengarang “Al Kutub As Sittah” serta ratusan ulama yang lain.
b. Membuang semua/sebagian pendapat para ulama Asy’ariyah & Maturidiyah yang tidak sesuai misi mereka.
c. Bebas men-tahrif (mengubah) karya-karya mereka yang tidak sesuai keinginan dan bahkan membakarnya, karena dianggap karya orang-orang sesat.
d. Menggantikan peran/pendapat para ulama sejak abad ke-3 hingga abad ke-19 (Munculnya Muhammad Ibnu Abdil Wahab) dengan para “ulama” yang mereka ciptakan diabad 19 dst.
e. Cukup banyak ulama yang pemikirannya dijauhkan dari umatnya.
f. Menghilangkan atau setidaknya mengurangi rasa hormat umat Islam terhadap para ulamanya.
g. Menghilangkan atau setidaknya mengurangi kepatuhan umat Islam terhadap para ulamanya.
h. Menghilangkan metode yang benar dalam mamahami Islam. (hal ini penting untuk misi yang lain)
i. Ibarat hutan yang telah ditinggal “Macan”nya, dan yang tersisa hanyalah “Macan” ompong piaraan dengan fatwa-fatwa aneh.
j. dll

Misi 2: Pisahkan Umat Islam dari Nabinya
Misi ini penting, mengingat ikatan emosional umat Islam dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah faktor fital yang mampu membuat  umat Islam rela mengorbankan segalanya.
Adapun fatwa dan tindakan yang disinyalir “Mendukung” misi tersebut adalah:

1. Haramnya Bepergian Menziarahi (Qubbatul Khadra’) Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Anda yang pernah menziarahi Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti tahu efek emosional bagi penziarah baik ketika berziarah maupun sesudahnya. Betapa hati yang normal takkan mampu membendung air mata ketika berada di pusara mulia beliau. Rasa haru, bahagia, malu, rindu, bangga, terimakasih, bercampur dalam sebuah hidangan istimewa berupa “Mahabbah” (rasa cinta) yang tidak dapat diungkapkan dengan kata.
Anehnya menurut teman-teman yang pernah muqim di Saudi, ada ulama kebanggaan Wahabi (maaf tidak disebut nama karena orangnya sudah meninggal) yang bersyukur karena tidak pernah menziarahi makam Nabi selama 25 tahun tinggal di Madinah,� hingga para santri di sana berkata: “Memang Nabi nggak mau ketemu Anda”.

2. Haramnya Pelaksanaan Maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Mereka sadar betul akan efek tumbuhnya rasa cinta kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui pujian dan pembacaan sirah Nabi yang ada dalam kitab-kitab maulid yang identik lebih mengangkat sisi Irhash dan Mukjizat Nabi. Fakta telah membuktikan efek Maulid yang terjadi pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi, bahkan fakta terbaru adalah betapa dahsyat efek “Shalawat Badar” dalam membakar semangat umat Islam guna menumpas PKI.

3. Haramnya Tawasul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah Wafat
Hal ini jika kita cermati argumentasi mereka kita dapati sebuah fakta: Menghilangkan atau setidaknya mengurangi pemahaman umat Islam terhadap Nabinya dalam aspek Nubuwwah dan lebih menonjolkan aspek Basyariyah Nabi (sisi kemanusiaan). Bukti dari efek tersebut adalah pernyataan ulama kebanggaan mereka yang menyatakan bahwa tongkatnya lebih berguna daripada Rasulullah yang sudah wafat.

Dan bukti lain adalah sikap Prof. Salim Bajri ketika berdialog dengan Buya Yahya dalam Tema “Sampainya pahala kebaikan yang dihadiahkan untuk orang-orang yang telah meninggal”. Dalam dialog tersebut sang Prof tidak puas ketika diajukan hadits shahih dari Imam Al-Bukhari dengan dalih Nabi Muhammad bisa salah berdasar QS: ‘Abasa.

4.� Menghilangkan Situs-Situs Bersejarah yang Berkaitan Dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Para Sahabat
Efek yang ditimbulkan dari tindakan tersebut adalah: Hilangnya bukti fisik perjuangan Rasulullah dan para sahabat yang dapat membangkitkan semangat dan keimanan umat Islam.
Jika dalam penghancuran situs-situs bersejarah tersebut Salafi/Wahabi beralasan “Syaddudz Dzari’ah” (mencegah kemungkaran yang mungkin ditimbulkan) yakni sikap “Ghuluw” (berlebihan), maka faktanya mereka mengalihkan sikap “Ghuluw” tersebut kepada Syekh Al ‘Utsimin dengan membangun museum Yayasan Al ‘Utsaimin. Dimana dalam museum tersebut tidak hanya karya sang Syekh yang dihormati, bahkan pena terakhir sang Syekh-pun ditempatkan di tempat khusus dalam etalase mahal. aneh.

Misi 3: Pisahkan Umat Islam dari Al-Quran
Kita semua tahu arti dan peran Kitab Suci bagi semua pemeluk agama, maka sangat wajar jika misi ketiga ini menjadi misi penting. Adapun fatwa dan propaganda Salafi/Wahabi yang disinyalir “Mendukung” misi tersebut diantaranya adalah:

1. Haram Mengikuti Mazhab Tertentu
Silahkan Anda baca Fatwa Syekh Albani tentang masalah tersebut, dan silahkan Anda bayangkan ketika kaum awam melepaskan diri dari tuntunan para ulama dalam memahami Al-Quran.
Bukti akan adanya efek tersebut adalah propaganda yang didengungkan MTA, yakni : “Ngaji ko’ kitab kuning, Ngaji ya Al-Quran sak maknanya”. Dan akibatnya fatwa-fatwa mereka ngawur dan paling ironis dengan enteng mereka mengafirkan sesama saudara Muslim.

2. Jargon Kembali kepada Al-Quran dan Sunnah
Coba kita cermati akibat yang ditimbulkan dari keberanian orang-orang awam menginterpretasikan Al-Quran tanpa sarana ilmu yang memadahi. Disamping pemahaman yang kontradiktif, mereka telah lepas dari nafas Al-Quran itu sendiri, sehingga begitu mudah mereka mengafirkan sesama umat Islam.
Hal inilah yang diwanti-wanti Rasulullah dalam sabda beliau:
يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا سِيمَاهُمْ قَالَ : التَّحْلِيقُ .
“Mereka mengajak pada kitab Allah tetapi justru mereka tidak mendapat bagian sedikitpun dari Al-Quran. Barangsiapa yang memerangi mereka, maka orang yang memerangi lebih baik di sisi Allah dari mereka”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ciri khas mereka?” Rasul menjawab “Bercukur gundul”. (Sunan Abu Daud : 4765)
سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ قَوْلِ خَيْرِ الْبَرِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang masih muda, berucap dengan ucapan sebaik-baik manusia (Hadits Nabi), membaca Al-Quran tetapi tidak melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama Islam sebagaimana anak panah meluncur dari busurnya, maka jika kalian berjumpa dengan mereka, perangilah mereka, karena memerangi mereka menuai pahala di sisi Allah kelak di hari kiamat “.(HR. Bukhari Muslim)
Selanjutnya misi Zionis:

4. Pecah Belah Lalu Hancurkan!!!
Inilah tujuan pokok dari misi-misi penghantar yang kami sebutkan di atas. Sebagaimana di wanti-wantikan Allah dalam Al-Quran :
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ
“Dan orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka” (QS : Al Baqarah:120)
Sedang tindakan kongkrit dalam mendukung misi ini adalah menciptakan kelompok yang menyimpang yang mereka lindungi atas nama HAM semisal “AHMADIYAH” di India, dan disaat bersamaan mereka ciptakan “WAHABI” di Timur Tengah, sebuah kelompok yang berhasil membuat umat Islam saling menghujat, saling mengkafirkan, dst.
Lantas adakah korelasinya misi Zionis tersebut dengan fatwa dan atau propaganda diatas? 

Mari kita cermati bersama:
Apakah jadinya ketika umat Islam sudah tidak lagi menghormati figur-figur yang dapat meredam pertikaian dan mempersatukan umat, yakni para ulama? Dan apa jadinya ketika umat Islam memandang dan memahami Nabinya hanya dari aspek Basyariyah? Dan apa jadinya ketika umat Islam yang tidak memiliki sarana ikut-ikutan berijtihad dan mengesampingkan tuntunan para ulama?
Fakta yang sudah di depan mata adalah� PERPECAHAN UMAT ISLAM !
Wal ‘Iyaadz Billah…(Mundzir Ahmad)
///

TUN MAHATHIR PERLU MINTA MAAF DAN BERTANGGUNG JAWAB



TUN Dr Mahathir Mohamad perlu bertanggungjawab terhadap kerosakan reputasi negara dan media barat harus meminta maaf kepada rakyat Malaysia, kata Setiausaha Akhbar kepada Perdana Menteri iaitu Datuk Seri Tengku Sharifuddin. 

Datuk Seri Tengku Sharifuddin Tengku Ahmad berkata, pengakuan Menteri Luar Arab Saudi, Adel Al-Jubeir membuktikan dakwaan liar yang dicanangkan selama setahun oleh bekas perdana menteri iaitu Dr Mahathir dan kempen anti-Najib adalah tidak benar sama sekali. 

Semalam, Adel berkata sumbangan derma kepada Najib itu memang datang dari negara itu tanpa mengharapkan sebarang balasan.
"Pembohongan Tun Mahathir didorong oleh kepentingan peribadi tanpa mempedulikan kepentingan Malaysia mahupun rakyat."

"Ia merupakan percubaan untuk menjatuhkan kerajaan yang dipilih secara demokratik, semata-mata untuk menyelamatkan karier politik anak Tun Mahathir iaitu Datuk Seri Mukhriz Mahathir," katanya. 

Tengku Sharifuddin berkata, kenyataan Menteri Luar Arab Saudi itu mengesahkan apa yang dipertahankan oleh Najib mengenai derma RM2.6 bilion selama ini dan kesimpulan pelbagai pihak berkuasa selepas siasatan menyeluruh bahawa dana itu ialah sumbangan dari Arab Saudi.

"Media barat yang membenarkan diri mereka digunakan untuk menyebarkan dakwaan palsu bermotifkan politik harus meminta maaf kepada rakyat Malaysia," kata beliau lagi. 

Menurut Adel, "Kami sedar tentang derma itu dan ia memang benar-benar sumbangan tanpa mengharapkan apa-apa balasan. Kami juga sedar sepenuhnya bahawa Peguam Negara Malaysia telah menjalankan siasatan terperinci mengenai perkara itu dan mendapati tiada salah laku. Justeru, setahu kami, isu itu ditutup." 
///

Jumaat, 8 April 2016

APAKAH BUKTINYA (pemimpin, lebai klaghoh, ahli taksub - bukan ahli biasa) PAS ADALAH GOLONGAN DIREDHAI ALLAH ISLAM (al-Islam) ?

... dan aku redha akan "al-Islam" itu ...

(1) Apa itu Islam (al-Islam) ?
- Tauhid (rububiyyah) zat Allah kah ?

- I'ttiqad (uluhiyyah) hak-hak mutlak zat Allah kah ?
- Aqidah (al-Iman) kah ?
- Syariah-Fiqh (al-Ilmu) kah ?


(2) Siapa berkuasa menguatkuasakan Islam (al-Islam) pada mana-mana anak Adam ?
- Ibu / bapak kah ?
- Para guru Agama kah ?
- Para Ulama kah ?
- Para Pemimpin - Umara' kah ?
- Para pengajian Arab kah ?


(3) Pada bahagian mana jasad anak Adam itu IslamNya (al-Islam) bersarang ?
- Akal kah ?
- Kalbu kah ?
- Kupiah-serban, jubah & janggut kah ?


(4) Terhadap apakah anak Adam itu menguatkuasakan IslamNya (al-Islam) ?
- Pada zat Allah kah ?
- Pada hak-hak mutlak zat Allah ?
- Pada pertubohan atas nama Islam kah ?

- Pada pertubohan atas nama Melayu kah ?

(5) Bagaimana menjadi golongan Islam (al-Islam) yang benar disisi Allah (al-Quran) ?
- Pangkah PAS kah ?
- Jadi ahli PAS kah ?

- Jadi ahli UMNO kah ?
- Bermusohan kerana Agama (ad-deen) & Islam (al-Islam) serta FuruqNya kah ?


(6) Bagaimana gugur dari golongan yang diredhai Allah Islam (al-Islam) ?
- Kerana Murtad (yartadda : yartadid mingkum undeeneh) kah ?
- Kerana Syirik (yusyrik : tusyrik billaahi) kah ?
- Kerana Sesat Aqidah & Syariah kah ?
- Kerana Kafir - engkar larangan Allah (al-Quran) kah?
- Kerana Kufur - tanpa lilaahi kah ?


(7) Gugur dari golongan yang diredhai Allah Islam (al-Islam) jadi golongan apa ?
- Kufur - tanpa Lillaahi kah ?
- Kafir - Engkar kah ?
- Syirik (al-Yahud, as-Syaieyah, an-Nasyoro) terhadap hak-hak mutlak zat Allah kah ?
- Murtad (al-musyrik - berhala, api/matahari) dari tauhidkan zat Allah kah ?


(8) Apakah yang membezakan antara golongan Islam (al-Islam) yang diredhoi Allah VS golongan Yahudi (al-Yahud) yang dilaknati Allah ?
- Kupiah-serban, jubah & janggut kah ?
- tutor kata "Ana, Anta, Anti, Antunna & Antangtungau kah ?
 
(9) Siapa sebenarNya golongan yang diredhai Allah Islam (al-Islam) VS golongan yang dilaknati Allah Yahudi (al-Yahud) di Malaysia hari ini ?

- Tanyalah pada diri sendiri !!!
///

al-Yunan

KAJI SEMULA & SELARAS KADAR BAYARAN PENCEN VETERAN ATM, MENGIKUT KEHENDAK PERLEMBAGAN & AKTA AT...

 
KEGAGALAN "T5P"... MENGUNDANG SIAP SIAGA VETERAN BERPENCEN DENGAN SKIM TANGGA GAJI SEBELUM UNTUK MENGATAKAN "TIDAK" SECARA TERBUKA MELALUI PERSATUAN / KELAB VETERAN TENTERA DISELUROH MALAYSIA KEPADA PH - YANG DIDOMINASI OLEH DAP (titik) 

Salam rakan-rakan seperjuangan...
TUNTUTAN BUKAN DAHAGI.

Gerakan ini akan di dukung 100% oleh bekas tentera, berpencen & tidak berpencen, (+/-) seramai 310k orang tidak termasuk keluarga - anak/isteri. Saya mohon tuan-tuan bersama-sama mengembeling tenaga untuk menwar2kan kepada yang tiada dalam group Fb, WhatsApp, Blogs, Telegram, Google... Supaya kita dapat memperjuangkan nasib kita sendiri. Tanpa menjadi "pengemis" hanya untuk mendapatkan hak kita sendiri (Hak : Adil : Saksama) yang termaktub dalam AKTA & PERLEMBAGAAN.

5 TUNTUTAN

Tuntutan 5 perkara (T5P) oleh PAHLAWAN (ngo's): menuntut kenaikan pencen persara tentera sesuai dengan pelarasan gaji baru anggota ATM yg sedang berkhidmat. Dan mengakaji semula kebajikan anggota ATM yg berhenti awal dan OKU :

1. Menuntut kenaikan pencen persara bersandarkan skil gaji semasa anggota tentera yang dikuatkuasakan 1/Jul/2016. Pelarasan pencen untuk mereka yang bersara sebelum 01/01/2013, APATAH LAGI veteran ATM perpencen sebelum 2000.

  • a) Mereka yang berpencen dengan Skim gaji lama dengan Skim gaji semasa adalah sama semuaNya... LALU "kenapa berlaku perbezaan bayaran pencen yang begitu jauh ??? 
  •  
  • b) Mereka sama semuaNya : 
  •  
  • sama Angkatan
  • sama Kor 
  • sama Regiment 
  • sama Unit 
  • sama Pangkat 
  • sama TTP 
  • sama Kursus - Tred 
  • sama Bangsa 
  • sama Agama Tauhid (ad-deen) 
  • sama I'ttiqad (al-Islam)
  • majority berAqidah (al-Iman) al-Islam
  • majority berSyariah-Fiqg (al-Ilmu) al-Islam
  •  SERTA masih hidup pada zaman : keadaan : waktu : masa-saat yang sama... MELAINKAN hanya berbeza Skim Tangga Gaji sahaja... ??? 
  •  
  • c) Tidak mungkin Majority boleh mengalahkan Minority dalam membuat keputusan... Jika berlaku, maka itu keputusan yang tidak Benar (bil-HAQQ), tidak Adil (bil-ADIL), tidak Saksama (bil-QISTY)...SEKALIGUS mencabuli apa yang terkandungan dengan kejap : jelas dalam PERLEMBAGAAN : AKTA AT...       

2. Imbuhan tahunan sebanyak RM6k setiap tahun kepada anggota yang berhenti awal & tidak berpencen dengan terhormat.

3. Hak mewariskan pencen kepada isteri yang di nikahi selepas perkhidmatan, untuk sepanjang hayat balu. Bukan seperti amalkan sekarang yang menghadkan bayaran pencen waris hanya berlaku selama 20 tahun dari tarikh persara mulai pencen wajib.

4. Menuntut kerajaan memenuhi janji tentang pemberian tanah / rumah mampu milik / rumah murah kepada bekas2 tentera.

5. Menuntut penyeragaman pencen, PHU dan ex-gratia untuk semua Vet OKU perang tanpa mengira tahun akhir perkhidmatan.
/// 
PAHLAWAN.

Rabu, 6 April 2016

AL-QURAN (القران) ITU BACAAN & AL-KITAB (الكتاب : Kalaamallah - الكلم الله) SIGN (abjad, simbol, perlambang - cryptology non comm)

Sesungguh الفران itu adalah اقرأ : bacaan - lisaanun Arabia yang berasal dari Kalaamallah - الكتاب (القلم, huruf, abjad, lambang, simbol, SIGN - cryptology non comm).  Adalah amat jelas bahawa pada asalNya al-Quran itu tidak ada tanda qalam (lambang : huruf) & tidak ada tanda bacaan melainkan qalam2Nya (hakikat qalam > qalam tunggal & tunggal bersambung) satu demi satu... kemudian kumpulan qalam yang membentuk kumpulan - perkataan > ayat-ayat...

Billion / Trillion manusia membaca القران dimuka bumi ini, tapi berapa kerat yang mengkajiNya akan setiap kumpulan qalam - perkataanNya, melainkan terima bulat2 apa yang telah di tulis orang : umat terdahulu tanpa sedikit pun Ijtihad untuk mengesahkan... sekaligus mencari sebarang kesilapan usul, tapsirNya...apatah lagi pada kalimah - perkataan & ayat mutasyabihat (samar-samar) ditakwil dengan berbagai takwilan sesuai dengan hawa napsu masing-masing, walaupun bercanggah dengan kalimah : perkataan - ayat (muhkamat - jelas) yang lain.

Malah masih terdapat sebahagian dari kumpulan qalam - perkataan القران (bacaan - jenis Mutasyaabihat : samar2 - hakikat) sampai sekarang masih lagi belum difahami... paling2 hanya dengan takwilan semata-mata. 

Maka siapalah sangat dengan mereka yang mengaku Ulama, mereka yang melantik diri sendiri sebagai Ulama serta mereka yang menggunakan berbagai AL.... dihadapan nama masing2 itu... hanya lah tukang copy paste - menghafal... kemudian kelentong atasnama الله (القران) serta atasnama Nabi SAW dengan segala tipudayaNya, demi memenohi hawa napsu... kan kan kan

Malah 3 qalam pertama الكتاب) > القران)  yang dibaca hanya dengan menyebut nama2 qalamNya saja pun masih lagi belum berjaya diusul, tapsir & terjemahkan maksudNya dengan jelas, tegas & tegoh pengertianNya, kemudian hantar balik semula kepada Allah dengan lafaz "tidak ada sesiapa yang mengetahui maksudnya melainkan الله", lalu untuk apa Allah turunkan melalui qalbu Muhammad SAW untuk disampaikan sepada seluroh umat manusia itu.

Begitu juga lah dengan kalimah (mutasyabihat - samar2) bacaan al-Quran "الاءسلام" sampai sekarang belum berjaya di usul, tapsir & terjemahkan dengan jelas, tegas & tegoh... sekadar takwilan semata-mata.  Perkara yang masih tersembunyi - disembunyikan oleh golongan ahli الكتاب bani Israiel (البهود - Haadu) Yahudi serta mereka yang beri'ttiqad dengan i'ttiqad (yakin qalbu) Syirik sama dengannya.
///
Ab Sheikh al-Yunan.

Isnin, 4 April 2016

Benarkah Dilarang Memilih Non-Muslim Sebagai Pemimpin?


Nadirsyah Hosen bersama Gus Mus 

Benarkah QS Al-Ma’idah: 51 melarang kita memilih non-muslim sebagai pemimpin?

Oleh: Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama
Australia – New Zealand

Ini terjemah QS Al-Ma’idah: 51 yang belakangan ini banyak beredar:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi “awliya” mu; sebagian mereka adalah “awliya” bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi “awliya”, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Kata “awliya” dalam Qs al maidah ayat 51 yang dijadikan alasan melarang mengangkat pemimpin kafir itu layak ditelaah kembali. Terjemahan Al-Qur’an depag menerjemahkannya sebagai “pemimpin”. Konteks asbabun nuzul dan bacaan saya terhadap tafsir klasik semisal al Thabary dan Ibn Katsir tidak menunjukkan kata “awliya” dalam ayat di atas bermakna pemimpin, tapi semacam sekutu atau aliansi.
Penjelasan Tafsir Ibn Katsir mengenai asbabun nuzul QS al Maidah ayat 5:
“Para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai penyebab yang melatarbelakangi turunnya ayat-ayat yang mulia ini. As-Saddi menye­butkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang lelaki. Salah seorang dari keduanya berkata kepada lainnya sesudah Perang Uhud, “Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Yahudi itu, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk agama Yahudi bersamanya, barangkali ia berguna bagiku jika terjadi suatu perkara atau suatu hal.” Sedangkan yang lainnya menyatakan, “Adapun saya, sesungguhnya saya akan pergi kepada si Fulan yang beragama Nasrani di negeri Syam, lalu saya berlindung padanya dan ikut masuk Nasrani bersamanya.” Maka Allah Swt. berfirman: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi “awliya” kalian….(Al-Maidah: 51). hingga beberapa ayat berikutnya.
Demikian penjelasan Ibn Katsir untuk kita lebih memahami konteks ayat di atas.
Ini ayat senada:
QS al -Nisa ayat 144: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi “awliya” dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksa kalian)?”
Ayat 144 surat al Nisa di atas juga melarang kita mengambil orang non muslim sebagai “awliya”. Mari kita cek apa penafsiran Ibn Katsir terhadap makna “awliya” dalam QS al Maidah ayat 51 sama maknanya dg QS al Nisa 144:
Kata Ibn Katsir: “Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai “awliya” mereka, bukannya orang-orang mukmin. Yang dimaksud dengan istilah “awliya” dalam ayat ini ialah berteman akrab dengan mereka, setia, tulus dan merahasiakan kecintaan serta membuka rahasia orang-orang mukmin kepada mereka.”
Jadi Tafsir Ibn Katsir tidak menafsirkan kata “awliya” sebagai pemimpin baik di QS al Ma’idah ayat 51 maupun an Nisa ayat 144. Yang dimaksud adalah temenan dalam arti bersekutu dan beraliansi dengan meninggalkan orang Islam. Bukan dalam makna larangan berteman sehari-hari. Konteks al Ma’idah ayat 51 itu saat muslim kalah dalam perang uhud. Jadi ada yg tergoda untuk menyeberang dengan bersekutu pada pihak yahudi dan nasrani. Itu yang dilarang.
Ibn Taimiyah mengingatkan kita:

فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَتَنَازَعُوا فِي أَنَّ عَاقِبَةَ الظُّلْمِ وَخِيمَةٌ وَعَاقِبَةُ الْعَدْلِ كَرِيمَةٌ وَلِهَذَا يُرْوَى : ” اللَّهُ يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الْعَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً وَلَا يَنْصُرُ الدَّوْلَةَ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً ”
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan bahwa akibat (atau efek) sikap zhalim adalah kebinasaan dan akibat sikap adil adalah kemuliaan. Oleh karena itu diriwayatkan bahwa Allah akan menolong negara yang adil meski ia kafir dan tidak akan menolong negara yang zalim, meski ia mukmin.”
Dengan demikian, spirit Islam adalah keadilan, dan lawannya adalah kezhaliman. Kalau ada orang yang adil (mampu berbuat adil dan menegakkan keadilan) ya kita dukung meskipun dia bukan Muslim dan Allah akan menolong orang yang adil tersebut.
Kalau ada orang Muslim, yang bersikap zhalim dan melakukan kezhaliman, ya jangan didukung. Allah tidak akan menolong orang yang zhalim.
Sesederhana itu sebenarnya, tanpa harus emosi dan punya tendensi kepada isu politik praktis. Kita ngaji saja apa makna ayat tersebut dan gak usah ikut-ikutan menjadikan ayat itu seolah-olah sebagai “ayat pilkada”
Tabik,
Sumber: Status Nadirsyah Hosen
///
al-Yunan

TIDAK MUTLAQ & BERSYARAT...

HUKUM TIDAK PERNAH BERUBAH... Apa yg pernah dikatakan Haji Hadi ini tidak Mutlaq & bersyarat dengan pertimbangan bagi menghindari kem...